Kevin Anggara

Nggak Ada yang Tau

Gila. Udah lebih dari sebulan gue nggak nulis di blog ini. Jadi, langsung aja, di postingan kali ini, gue akan rekap hal-hal yang terlewat dan belum sempat gue tulis. Mari kita mulai.

1. Sebulan terakhir gue disibukkan oleh UAS di kampus. Kebanyakan UAS-nya itu bersifat take home dan harus gue kerjain di rumah. Gue tetap bikin konten video di YouTube, tapi tugas UAS ini gue jadikan prioritas. Makanya nggak sempat nulis. Dan kalo ada waktu luang, gue memilih untuk beristirahat karena capek. Kepala gue terasa berat karena kebanyakan mikirin ide-ide yang harus dieksekusi jadi sebuah karya.

2. Nggak hanya kuliah dan bikin video, gue juga masih nyempetin diri untuk ikutan shooting film Koala Kumal dan Ada Cinta di Sekolah (yang ini cameo satu scene doang). Jadwal shooting film ini gue selipkan di weekend-yang-harusnya-gue-istirahat-karena-udah-lima-hari-pergi-kuliah. Ini turut menjadikan Koala Kumal dan Ada Cinta di Sekolah sebagai film kedua dan ketiga bagi perjalanan karir gue di perfilman Indonesia.

Totalnya, gue udah main di tiga film lokal. Sebuah prestasi luar biasa bagi gue yang lima tahun lalu kerjaannya cuman nulis di blog doang. Nggak ada yang mengira, bahkan gue sendiri juga nggak kepikiran.

3. Dari film pertama gue, Ngenest, gue mendapatkan dua penghargaan. Yang pertama, Pendatang Baru Pria Terbaik dari acara Indonesian Box Office Movie Awards 2016. Yang kedua, Pendatang Baru Terfavorit dari acara Indonesian Movie Actor Awards 2016. Wow... Gue cuman bisa bengong.

Awards
Kiri-kanan: IBOMA 2016 - IMAA 2016

Gue nggak nyangka bisa memenangkan penghargaan yang sangat bergengsi itu, bisa masuk nominasi aja gue udah kaget banget. Ditambah saingan-saingan gue juga bukan orang biasa, tapi mereka yang aktingnya sangat bagus dan beberapa udah punya nama besar di perfilman Indonesia. Dulu, gue cuman nontonin video stand up comedy Ernest Prakasa dan Raditya Dika di YouTube, sekarang gue bisa main di film yang disutradrai mereka. Dulu, gue cuman nontonin Reza Rahadian di bioskop, sekarang gue bisa masuk nominasi bareng (walaupun berbeda kategori). Mungkin suatu saat main film bareng juga? Nggak ada yang tau.


4. Sedikit cerita yang menurut gue sangat menarik, mungkin ada yang sempet mikirin ini juga. Salah satu kontribusi pertama gue untuk perfilman Indonesia adalah membuat parodi dari trailer film Magic Hour. Gue nggak main di filmnya, tapi gue ikut serta dalam membantu promosi film ini. Bekerja sama dengan production house yang memproduksi filmnya sendiri ini mempertemukan gue dengan pemeran utama dari film Magic Hour, Michelle Ziudith dan Dimas Anggara. Buat yang belum tau, mungkin bisa nonton dulu:


Klik ini kalo videonya nggak bisa di-play.

Di video itu, gue menggantikan semua peran Dimas Anggara karena gue memiliki kesamaan nama belakang dengannya. Bukan, kami sama sekali bukan kakak beradik yang tertukar lalu kisahnya dijadikan sinetron. Dimas Anggara adalah seorang aktor yang sangat hebat, sedangkan gue waktu itu cuman anak sekolah yang kerjaannya bikin video-video nggak jelas. Dimas Anggara keren, gue biasa aja. Waktu pun berjalan.

Gue sedang duduk di kursi yang disediakan sambil menunggu pengumuman pemenang nominasi Pendatang Baru Pria Terbaik. Grogi bercampur deg-degan. Sesekali gue mengancingkan jas hitam yang baru dibeli kemarin. Kemudian, Michelle Ziudith dan Dimas Anggara datang dari belakang panggung. Ternyata, mereka yang akan membacakan nominasinya. DEG. Dalam hati gue, "Ini bakal sweet banget kalo ternyata gue yang menang dan mereka yang bacain nama gue." Singkat cerita, gue menang, lalu berjalan ke arah panggung.

Masih dalam hati, gue senang bercampur perasaan yang agak aneh, "Mereka main film, gue bikin parodi dari trailer filmnya," Gue semakin dekat dengan podium. "Sekarang, mereka bacain nominasi penghargaan yang dimenangkan oleh gue yang udah merusak trailer filmnya." Walaupun gue juga masuk nominasi untuk film Ngenest, bukan Magic Hour. Rasanya lucu. Mereka pasti berpikiran yang sama. Waktu pun berjalan.

Gue sedang duduk di kursi yang disediakan sambil menunggu pengumuman pemenang nominasi Pendatang Baru Terbaik. Masih grogi bercampur deg-degan, tapi udah nggak separah yang pertama. Sesekali gue mengancingkan jas hitam yang sama dengan yang gue pakai di acara sebelumnya. Saat pembacaan pemenang, bukan nama gue yang disebut. Nggak apa-apa, masih ada satu nominasi lagi pikir gue.

Tanpa harus menunggu iklan, Prisia Nasution dan Dimas Anggara datang dari belakang panggung untuk membacakan pemenang nominasi berikutnya, Pendatang Baru Terfavorit. Entah ada hubungan spesial apa selain kesamaan nama belakang, gue merasa gue akan memenangkan nominasi ini. Iya, nominasi yang dibacakan oleh Dimas Anggara lagi. Singkat cerita, gue menang, lalu berjalan ke arah panggung. "Gue memenangkan nominasi yang dibacakan oleh Dimas Anggara lagi," kata gue dalam hati. Kebetulan?

Nggak ada yang tau.

5. Sekarang, gue lagi libur kuliah (akhirnya). Gue udah punya beberapa rencana untuk liburan dan mengistirahatkan otak sejenak. Nggak cuman liburan, gue juga akan mengisi beberapa acara YouTube di Indonesia dalam dua bulan ke depan. Buat yang mau memulai channel YouTube atau pengin channel YouTube-nya berkembang (semoga), ditunggu aja informasinya.

6. Terakhir, gue punya rencana untuk mengubah template blog gue dalam waktu dekat (atau jauh), agar terlihat lebih update dan membuat gue semakin semangat nulisnya. Mungkin, ya. Kalo menurut kalian?

Sekian. BRRCIKEPEHH~

Karya

Akhir-akhir ini, dunia YouTube Indonesia lagi penuh drama. Nggak perlu gue kasih tau, gue yakin kalian udah pada tau. Karena itu juga, kata-kata "vlog" pun tiba-tiba menjadi sensitif dan sakral. Lalu, banyak yang bertanya-tanya: apakah vlog itu termasuk karya? Tergantung.

Menurut KBBI, karya adalah pekerjaan, hasil perbuatan; buatan; ciptaan.

Sampe di sini, kita harus setuju bahwa secara harfiah, lo masak indomie itu juga termasuk karya. Lo bikin tugas laporan di Microsoft Word, itu karya. Lo bikin slide buat presentasi, itu karya. Lo bikin tulisan di blog, itu karya. Lo bikin video di YouTube, itu karya. Lo hamilin anak orang... itu kurang ajar, nying.

Sekarang, kita harus tau apa itu vlog. Vlog adalah singkatan dari video blog: a video blog or video log, usually shortened to vlog /ˈvlɒɡ/, is a form of blog for which the medium is video, and is a form of web television (Wikipedia). Gampangnya, vlog adalah "postingan blog" dalam bentuk video, bukan tulisan. Visualisasi vlog dikomunikasikan dalam bentuk verbal maupun non verbal.

Verbal bisa secara lisan maupun tertulis (ada teks dalam video kalo males ngomong). Non verbal (biasanya jadi pendukung komunikasi verbal) bisa secara ekspresi wajah atau cara bicara. 

Menurut gue sendiri, vlog itu ada BANYAK jenisnya. Nggak melulu musti ngomong terus di depan kamera, kita juga bisa memainkan visualiasi maupun memasukkan lagu-lagu untuk mendukung mood yang sedang dibangun. Yang penting, pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik oleh orang-orang yang nonton. Gampangnya, orang-orang pas nonton nggak bingung, "Ini video apaan, sih?"

Karya

Kebanyakan orang menganggap bahwa: vlog adalah video lo ngomong depan kamera dari awal sampai akhir. Padahal, vlog itu luas: video review, video jalan-jalan, video lo curhat terus pengin cepet-cepet kawin karena PR matematika banyak banget, dan masih banyak lagi. Yang membedakan blog dan vlog HANYA medianya. Blog itu tulisan, vlog itu video. Sesimpel itu.

Daily vlog. Sesuai namanya, daily vlog adalah video keseharian dari orang yang membuatnya. Biasanya dibuat rutin sehari atau dua hari sekali. Isi videonya kurang lebih mengikuti keseharian dari bangun tidur sampai tidur lagi. Bangun tidur, mau mandi, mau makan, mau jalan, pokoknya semua aktivitas yang dilakukan sehari-sehari. Apakah salah orang membuat konten daily vlog? Nggak sama sekali. Toh, dia lagi mendokumentasikan hidupnya dalam bentuk video. Sama aja kayak orang yang bikin daily blog. Hanya beda medianya. Yang satu video, yang satu tulisan.

Konten daily vlog laku karena menurut gue, orang-orang itu kepo dengan hidup seseorang. Gue sendiri suka nontonin daily vlog orang lain, bukan cuma karena kepo (kadang iya dan pengin tau aja), tapi karena kesehariannya menarik untuk diikuti.

Lalu, apakah vlog termasuk karya? Tergantung. 

Secara harfiah, iya. Secara esensi (the most basic and important quality of something), penonton yang menilai. Cara gue menilai vlog itu termasuk karya atau bukan: selama gue ngerti dan menikmati video yang gue tonton (apapun itu), gue menyebutnya sebagai sebuah karya. Memang subjektif, namanya juga cara gue. =P

Tugas Itu Hanya Mitos

Gue udah masuk kuliah lagi. SKS-nya memang lebih dikit. Tapi, tugasnya jauh lebih banyak dan ribet. Dosen-dosen baik layaknya orangtua sendiri di semester dua udah mulai berkurang. Yang ada hanya dosen-dosen berhati killer di balik tampang yang lembut seperti anak kecil. Dosen yang nggak memberikan mahasiswanya memotret presentasi atau catatan di papan lewat handphone. Dosen yang hanya menerima acc (persetujuan) di waktu-waktu tertentu. Dosen yang sering absen dan ngadain kelas pengganti seenak jidat.

Sekarang gue udah ngerasain sedikit asam-garam kuliah. Serius. Di kampus, pepatah "Dosen adalah Tuhan" itu berlaku. Dosen selalu benar walaupun salah. Gue telat 10 menit diomelin, dosen telat 10 menit gue lagi yang diomelin, "Kamu sih yang datengnya kepagian!" LAH?!

Tugas Itu Hanya Mitos
Foto diambil saat kelas pukul delapan pagi tapi dosennya belum datang.

Dari dosen yang baik kayak malaikat sampai ganas kayak singa-belum-makan-tiga-hari, semuanya ada di kampus. Kuliah itu nggak sama kayak yang di TV atau film-film. Datang dengan wajah bahagia, menyapa teman dan dosen dengan ceria, mengerjakan tugas dengan gembira, serta lulus tepat waktu dan membanggakan orangtua. Kuliah tidak seindah itu, teman.

Ada aja halangan kayak dosen-dosen yang subjektif. Ketika dosen ini nggak suka sama lo, jangan ngarep bisa lulus mata kuliah itu dengan mudah. Bisa-bisa, lo fail mata kuliah ini karena alasan sepele: dia nggak suka sama lo. Mau marah? Nggak bisa. Dosen adalah Tuhan. Lo mau marah sama Tuhan? Dosa. Masuk neraka.

Untungnya, gue belum punya masalah dengan dosen-dosen yang subjektif itu. Jangan sampai. Cukup mendengarkan ceritanya dari teman-teman kuliah gue yang udah senior. Itu udah lebih dari cukup.

Tugas itu hanya mitos. Kuliah? Nggak usah ngerjain tugas. Tugas yang ngerjain kita.

Hidup Ini Terlalu Adil

UAS selesai, liburan dimulai.

Karena gue tinggal sendiri di Serpong, selama liburan kuliah ini, gue balik ke rumah di Jakarta. Sekaligus untuk menyambut imlek yang jatuh pada bulan Februari. Imlek udah menjadi tradisi di keluarga gue, jadi ya, gue harus bersama keluarga di rumah. Hitung-hitung, penghematan karena selama kuliah makan di luar terus. Kesempatan juga untuk ngumpulin angpao buat jajan. Kevin nggak mau rugi.

Nah, untuk mengisi kegiatan di rumah, gue jaga-jaga bawa kamera, siapa tau bakal kepake untuk bikin konten video. Bener aja, baru beberapa hari gue di Jakarta, kamera gue kepake terus untuk bikin konten video. Ini namanya liburan yang produktif. Gue juga bawa laptop untuk keperluan mengedit video. DotA 2 udah gue uninstall demi efektivitas dan produktivitas. Jadi, gue sekarang bisa main hanya pas di Serpong.

Gue suka meninggalkan komentar di video-video YouTube yang gue tonton. Beberapa waktu lalu, gue komentar di video (anggap aja) si A. Lalu, ada penonton si A yang bales komentar gue, "Dasar pemalas. Kevin jarang upload video!" Lucunya, video gue di bulan itu lebih banyak ketimbang si A. Kenapa malah gue yang dikomentarin kayak gini? Gue bingung, nggak habis pikir. Asli.

Di bulan Januari ini aja, gue udah publish empat buah video YouTube. Dengan kata lain, satu video setiap minggunya. Normal untuk ukuran gue yang bikin video sesukanya (FYI, gue nggak punya jadwal tertentu untuk posting video). Nah, nggak hanya ketika gue meninggalkan komentar di A, begitu juga saat di B, C, dan seterusnya. Belum berhenti sampe di situ, bahkan di video gue sendiri, masih ada yang komentar kayak gitu.

Padahal, tiga hari yang lalu baru upload video. Plot twist banget.

Bahkan, gue udah bikin satu video khusus membahas hal ini: Kenapa gue jarang upload video? Mungkin, kalian udah pernah nonton juga di sini:


Paling nggak, bisa mengurangi jumlah pertanyaan yang sama masuk. Tapi... Gue masih bingung dengan kasus komentar di video si A, B, C, dan seterusnya itu. Si A baru upload SATU video, gue komentar, dikatain sama orang random: "Jarang upload video!", padahal di bulan yang sama, video gue udah publish TIGA. =))))

Hidup ini terlalu adil.

WHY?!

Disclaimer: gue nggak ada masalah sama sekali dengan si A, B, C, dan seterusnya itu. Masalahnya cuma sama orang random yang ngatain gue jarang upload video, padahal gue lagi produktif. Fakyu. =)))

Selamat Datang

Tahun baru, semangat baru.

Kalimat di atas biasanya cuma berlaku di minggu atau bulan pertama tahun baru. Sisanya: hidup kayak biasa. Nggak kayak kampus lain, UMN di bulan Januari ini baru melaksanakan UAS. Ketika teman-teman gue pada ngeluh karena bosan udah libur duluan, gue malah sangat butuh liburan. Desember lalu yang notabene bulan liburan, harus gue isi dengan promo film Ngenest ke berbagai kota. Jadi... gue belum liburan.

Setelah UAS selesai, gue berencana akan menghabiskan liburan dengan malas-malasan. Netflix and chill kalo kata anak gaul 2016. Bedanya, Netflix gue ganti dengan DotA 2. Tahun baru yang sangat produktif. =))

...

Film Ngenest, sejak mulai tayang pada 30 Desember 2015, udah menembus 600.000 penonton di Indonesia. Langsung masuk ke jajaran 10 film terlaris di Indonesia tahun 2015. Gue senang bisa menjadi bagian dari film ini. Semua kerja keras gue (dan seluruh orang yang terlibat di film ini) terbayar lunas. Buat yang belum nonton, jangan sampe ketinggalan. Nanti nyesel. Nggak percaya? Liat aja review-review dari mereka:

Review film Ngenest

Nah, semenjak film Ngenest tayang, banyak yang nanyain gue, "Kalo ada tawaran main film lagi, diterima nggak?". Tergantung. Prioritas utama gue sekarang kuliah, gue nggak mau ada kerjaan yang ganggu jadwal kuliah gue. Pas shooting film Ngenest aja, absen gue udah pas-pasan. Untung gue bisa ikut UAS semua mata kuliah (satu mata kuliah maksimal tiga kali absen). Gue nggak mau itu terulang lagi. Takut keteteran.

Maklum, kuliah pake duit sendiri. Jadi, ya, gue tau susahnya nyari duit. Iya, kerjaan juga menghasilkan duit, sih. Tapi makan waktu lagi misalkan gue harus ngulang mata kuliah karena masalah absen doang.

...

Banyak hal yang pengin gue kerjakan di tahun 2016. Salah satunya ya tetap nulis di blog ini (walaupun udah mulai menurun frekuensi postingnya). Paling nggak, gue nggak berhenti nulis. Banyak juga yang nanyain, "SGFD 3 ada nggak?". Jawabannya: nggak. Student Guidebook for Dummies cuma sampe yang kedua. Kalo gue nulis buku lagipun, judulnya bukan itu lagi. Niat buat nulis sih ada, tapi masih sebatas niat, belum aksi.

Tahun ini juga gue berniat untuk pergi ke Jepang lagi. Serius, ke Jepang itu nagih. Berasa belum puas sepuluh hari di sana. Kayaknya, nanti gue musti pergi selama sebulan? Balik-balik pasti langsung nyari indomie.

Gue juga udah jarang bikin video pendek di Instagram, karena dengan kesibukan kuliah sekarang, kayaknya hanya bisa bener-bener bikin kalo ada banyak waktu luang. Gue sekarang lebih prefer bikin video YouTube. Durasinya lebih panjang dan bisa ditonton lebih lama. Kira-kira, itu gambaran hal-hal yang akan gue kerjakan di tahun ini. Harus rajin biar semuanya bisa dikerjakan dengan baik dan lancar. Semangat!

...

Untuk teman-teman pembaca yang baru datang ke blog gue ini, selamat datang. Anggap aja rumah sendiri, tapi nggak boleh megang apa-apa. Duduk aja sambil baca tulisan-tulisan gue.

Selamat tahun baru 2016! Anggap aja nggak telat, ini kan postingan pertama gue di tahun ini.

See You in 2016

Baru sempet nge-post lagi. Huft....

Jadi, banyak penyebab kenapa gue baru nulis lagi di sini.

Pertama, awal bulan Desember gue udah mulai siap-siap untuk berangkat ke Jepang dalam rangka liburan dadakan (karena udah beli tiket dari jauh-jauh hari). Dari tanggal 3, gue bersama LASTDAY Production pun berangkat ke Jepang. Total, kami di Jepang selama sepuluh hari. Tanggal 15, kami pulang lagi ke Indonesia. Tentunya, sayang banget kalo udah jauh-jauh ke sana, tapi gue nggak bikin video. Makanya, selama di sana, gue nyempetin untuk bikin semacam video perjalanan. Buat yang mau nonton keseruannya, silakan:



Kedua, tugas kuliah gue selama dua minggu numpuk. Banyak yang bilang, "Wuih, enak banget liburan ke Jepang!" atau "Wuih, udah libur kuliah, ya?". Nggak sama sekali. Gue ke Jepang make jatah absen kuliah. Jadi, tugas kuliah gue selama pergi ke Jepang, numpuk semua. Pulang tanggal 15, besoknya sampe tanggal 18, gue harus masuk kuliah karena absen udah mentok. Jadilah tiga hari keramat itu gue pake untuk ngerjain tugas kuliah; lukisan di kanvas 4 biji, tugas advertising, laporan kunjungan ke museum, sampe book report.

Ketiga, di sela-sela waktu luang di tiga hari keramat yang sebelumnya, gue ngedit video perjalanan di Jepang. Banyak yang nanyain gue, kenapa jarang upload video? Untuk meminimalisir orang-orang yang nanya kayak gitu, makanya gue dengan segera ngedit video jalan-jalan di Jepang. Iya, video yang di atas itu.

Keempat, gue harus ikutan promo film Ngenest. Nggak cuma di Jakarta, tapi juga roadshow di luar kota seperti: Surabaya, Makassar, dan Bekasi (itu kota-kota yang gue datengin). Oh iya, karena postingan terakhir gue baru ngasih liat teaser film Ngenest, ini dia official trailer film Ngenest:


Hari Rabu lalu juga gue sempet promo film Ngenest di acara Indonesia Morning Show (NET TV) bareng Ernest Prakasa dan Lala Karmela. Lihat muka gue yang baru bangun tidur karena acaranya pagi banget:

Indonesia Morning Show
Makin sipit.

Yak, itulah penyebab kenapa gue baru sempet nge-post lagi. Hampir setahun perjalanan kita di tahun 2015 ini. Banyak banget hal-hal yang gue alami, bertemu dengan banyak orang yang luar biasa. Sebelum menutup postingan terakhir di tahun ini, gue ingin mengucapkan terima kasih banyak untuk semua pembaca blog gue. Mungkin, makin ke sini, gue jadi kurang produktif dalam menulis. Sekalinya nge-post juga pendek-pendek, nggak kayak dulu. Iya, semuanya karena kesibukan gue yang semakin padat. Sekarang, gue nggak hanya membuat konten tulisan, tapi juga konten visual (video). Jadinya, ya, gue harus pinter-pinter bagi waktu.

Sekali lagi, terima kasih untuk semua pembaca blog gue yang udah menemani perjalanan gue sampe sekarang. Sukses untuk kita semua. See you in 2016.

Ngenest Movie Teaser

Lega. Itu perasaan pertama yang gue alami ketika shooting film Ngenest (khususnya scene gue) selesai. Dengan waktu yang terbilang sangat cepat, film Ngenest akan tayang di bioskop tanggal 30 Desember 2015. Nah, sebelum tayang, tentunya akan ada beberapa promosi agar film ini nantinya sukses. Seperti Meet & Greet yang diadakan di Indonesia Comic-Con, tanggal 14 November lalu.

#NGENESTMovie

Indonesia Comic-Con yang diadakan di JCC ini ternyata rame banget. Gue mau jalan aja susah. Di mana-mana, lautan manusia. Di booth Starvision, teaser film Ngenest juga diputar. Jadi, selain foto-foto dan ngobrol, pengunjung yang datang juga bisa nontonin teaser-nya yang PECAH. Kenapa gue bilang PECAH?

#NGENESTMovie

Menurut gue, teaser ini SUKSES bikin orang nggak sabar untuk nungguin trailer, dan yang pasti, film Ngenest-nya sendiri. Banyak orang yang ngakak saat nontonin teaser film Ngenest. Nggak percaya? Tonton, nih:



Klik ini kalo videonya nggak bisa di-play.

"Ernest (Kevin Anggara / Ernest Prakasa) tidak pernah memilih bagaimana ia dilahirkan. Tapi nasib menentukan, ia terlahir di sebuah keluarga Cina. Tumbuh besar di masa Orde Baru di mana diskriminasi terhadap etnis Cina masih begitu kental. Bullying menjadi makanan sehari-hari. Ia pun berupaya untuk berbaur dengan teman-teman pribuminya, meski ditentang oleh sahabat karibnya, Patrick (Brandon Salim / Morgan Oey). Sayangnya, berbagai upaya yang ia lakukan tidak juga berhasil, hingga Ernest sampai pada kesimpulan bahwa cara terbaik untuk bisa membaur dengan sempurna adalah dengan menikahi seorang perempuan pribumi. 

Ketika kuliah di Bandung, Ernest berkenalan dengan Meira (Lala Karmela). Meski melalui tentangan dari Papa Meira (Budi Dalton), tapi akhirnya mereka berpacaran. Dan kemudian menikah, dengan adat Cina demi membahagiakan Papa dan Mama Ernest (Ferry Salim dan Olga Lidya).

Berhasil menikah dengan perempuan pribumi ternyata tidak menyelesaikan pergumulan Ernest. Ia mulai dirundung ketakutan, bagaimana jika kelak anaknya terlahir dengan penampilan fisik persis dirinya? Lalu harus mengalami derita bullying persis dirinya? Ketakutan ini membuat Ernest menunda-nunda untuk memiliki anak. Bagaimana kelanjutan kisahnya? Simak selengkapnya di NGENEST Kadang Hidup Perlu Ditertawakan."

Pecah, kan?

...

Dan, official poster film Ngenest akan menutup postingan kali ini:

#NGENESTMovie

Nantikan poster ini muncul di bioskop kesayangan kalian! =))