Kevin Anggara: Interabsurd: A Life Enthusiast

Interabsurd: A Life Enthusiast

Apa yang ada di pikiran gue ketika mendengar kata "orang kantoran" adalah: mereka yang datang pukul 8 pagi dan pulang pukul 6 sore setiap harinya. Kemeja rapi plus celana panjang bahan ditambah tas ransel besar yang dipakai di depan dada. Seperti yang sering gue temui ketika ingin naik Transjakarta. Selain mengantisipasi kecopetan, memakai tas ransel di depan dada mungkin menjadi salah satu style yang sedang nge-tren. 

Layaknya orang kantoran pada umumnya, hal itu langsung terlihat saat pertama kali gue bertemu dengan Roy Saputra. Kemeja rapi plus celana panjang bahan ditambah tas ransel besar yang dipakai dengan style satu tali. Awalnya gue rada curiga, kenapa tas ranselnya nggak dipakai di depan dada. Mungkin, dia nggak takut kecopetan karena sebelumnya udah siap. Atau jangan-jangan, dia sendiri adalah copetnya. 

Orang kantoran dan juga pemilik blog saputraroy.com ini udah menelurkan beberapa buku. Seperti The Maling of Kolor, Doroymon, Trave(love)ing, sampai Lontang-lantung yang bakalan diangkat ke layar lebar. Selain suka nulis di blog, pecinta klub bola Liverpool ini juga suka berkicau di twitter via akun @saputraroy.

Pengin tau lebih lanjut tentang proses pembuatan novel Lontang-lantung? Kenapa sekarang Roy Saputra memilih untuk berhenti nerbitin buku dulu? Yuk, simak langsung obrolan gue di Interabsurd kali ini!

Interabsurd adalah interview absurd yang diadakan sebulan sekali di kevinanggara.com. Interabsurd sudah diedit sesuai dengan kebutuhan. Terima kasih.

Roy Saputra @ Interabsurd

Halo, Bang Roy. Welcome to kevinanggara.com! \o/

Halo, Vin. Thank you ya blognya untuk mau dimampirin \o/


Bang Roy, novel terbarunya udah rilis yak? 

Iya nih, Vin. Novel fiksi komedi, judulnya Lontang-lantung. Itu adalah edisi revisi dan kemasan ulang dari novel Luntang-lantung.

Isinya tentang apaan tuh?

Lontang-lantung itu berkisah tentang Ari Budiman, seorang sarjana baru lulus, yang lagi lontang-lantung nyari kerjaan, wara-wiri ke sana kemari bawa map coklat berisi curriculum vitae (CV). Tentang sebuah fase dalam hidup yang hampir semua orang pernah alamin: lontang-lantung nyari kerjaan.

Untung gue belum nyari kerjaan, masih sibuk sekolah..

Lah, dia curhat…

Eh iya, maaf. Malah terbawa suasana, kan. Novel Lontang-lantung ini prosesnya berapa lama?

Gua biasanya nulis novel 4-6 bulan. Novel Lontang-lantung tergolong paling cepat yang pernah gua tulis. Cuma 2 bulan. Padahal ga pake jin. 

Lumayan cepet juga. Ide novel Lontang-lantung ini dapet darimana?

Ide besar buku Lontang-lantung itu diberikan sama penerbit. Waktu itu mereka mau gua bikin buku kumpulan cerita-cerita lucu tentang mahasiswa yang mau bekerja. Tentang wawancara yang kocak, tips nyusun CV yang gokil, dan pengalaman kerja pertama yang lucu.

Terus?

Tapi gua tolak karena gua lebih pengen nulis novel yang utuh, berbenang merah, dan membawa pesan.

Wuih, cerita lengkapnya gimana?

Cerita lengkapnya bisa baca di sini.

Sekalian promo blog nih ceritanya!

Yoi (--,)v

Bang Roy sendiri pernah lontang-lantung nggak nyari kerjaan? 

Pernah. 2 bulan gua nganggur, ga ngapa-ngapain. Hampir berniat buat jadi pelacur. 

Taeee x)) 

Untung ga laku, dan sekarang jadi bankir.

Ngomong-ngomong, nyari kerja itu susah nggak sih?

Nyari kerja itu sama kayak nyari pacar. Tergantung tampang.

*sambit batu-bata*

Eh, maksudnya, susah-susah gampang. Cocok-cocokan dan kadang, untung-untungan juga.

Pernah kebayang sebelumnya, novel Lontang-Lantung bakal difilm-in?

Waktu nulisnya sih emang ngebayangin adegan-adegan “gimana ya kalo ini dalam wujud film?” karena ketika bikin adegan, gua biasanya ngebayangin atau malah memeragakan.

Termasuk adegan nawarin MLM ke temen-temen?

Taeee :))

Tapi setelah bukunya rilis, ga pernah tuh ngebayangin bakal difilmin. Atau lebih tepatnya, ga pernah berani ngebayangin. Banyak yang baca aja udah seneng.

Perasaannya gimana? Pasti seneng dong?

Pas dikasi tau akhirnya difilmin, ya seneng banget. Rasanya terbang ke awang-awang… meski minum obat nyamuk bisa memberi sensasi yang sama, tapi bukan itu maksudnya.

By the way, suka nulis sejak kapan, bang Roy?

Kalo nulis sih sukanya sejak SD. Gimana, jawaban gua barusan kayak artis-artis ga sih? Yang kalo ditanya, sejak kapan suka nyanyi, “Wah, sejak TK suara saya udah merdu!”

Oke, udah mirip kayak artis-artis kok..

Anyway,

Gua suka nulis sejak SD. Tiap harus mengarang di ulangan bahasa Indonesia, gua paling seneng dan semangat saat yang lain ogah-ogahan.

Tapi kalo menulis secara serius itu berawal dari blog tahun 2007 akhir. Lalu nekad ngirim naskah ke penerbit di tahun yang sama dan di tahun 2008, buku pertama gua rilis.

Gimana sih cara menciptakan outline yang baik?

Outline yang baik itu yang logis. Karena logika adalah hutang penulis kepada pembaca. Yang namanya hutang kan mesti didahuluin, jadi ya logika cerita itu harus diutamain ketimbang latar yang keren, tokoh yang menarik, atau bahasa yang sastrawi (halah, apa pula itu sastrawi).

Selain itu, harus bisa bikin ending yang maknyus. Karena biasanya kan orang inget sesuatu itu ujungnya aja. Dan mereka bisa bilang bagus atau ga, biasanya sih gara-gara endingnya. Pastiin aja saat seseorang selesai membaca dan menutup buku, ada sesuatu yang dirasakan, bukannya malah berkomentar, “Udah nih? Gini doang?”

Kalo bikin plot cerita?

Sebelumnya harus inget dulu prinsip ini: there’s nothing new under the sun. Jadi pasti inti cerita mirip-mirip antar satu buku ke yang lain. Tinggal gimana ngemasnya aja.

Ngemasnya gimana? 

Bisa dengan profesi tokoh utama yang menarik (kebayang kan betapa serunya sebuah cerita yang tokoh utamanya seorang artis dangdut ibukota?), atau bermain di latar (negara atau kota yang menarik dan bikin pembaca ngiler).

Gue jadi tertarik nulis fiksi nih, apa aja yang perlu diperhatikan? 

Yang perlu diperhatikan itu harus nyusun outline yang baik dulu baru mulai menulis. Minimal adegan-adegan penting dalam cerita harus ketemu dulu dan harus logis.

Bang Roy, ke depannya ada rencana bikin buku lagi? Bocorin dikit dong.

Gua sedang memutuskan untuk berhenti menerbitkan buku dulu sampai batas waktu yang belum ditentukan. Jadi belom ada rencana apa-apa.

Kenapa milih berhenti nerbitin buku dulu? 

Menurut gua, saat ini industri penerbitan buku lagi ga sehat karena baik-tidak, laris-tidaknya sebuah buku udah sangat bias. Keberpihakan penerbit juga sangat timpang.

Contoh kasus nyata nih. Jelas-jelas di depan mata gua, seorang editor bilang buku A jelek banget, tapi mati-matian dipromoin karena si A punya fanbase yang sangat kuat dan udah terlanjut ditawarin nulis.

Jadi gua memutuskan untuk berhenti menerbitkan buku sampai batas waktu yang belum bisa gua tentukan. Toh, yang gua cintai itu menulisnya, bukan menerbitkan bukunya. Gua hanya akan tetap menulis :)

Menurut bang Roy, seberapa penting sih "followers" dalam bikin buku? 

Followers itu bicara soal kesempatan. Followers lebih banyak, kesempatan lebih banyak.

Maksudnya? 

Ga bisa dipungkiri, semakin banyak followers, kesempatan untuk ditawarin menulis lebih besar. Ga punya portfolio menulis pun (misalnya blog), seorang dengan followers banyak bisa aja dimention seorang editor dan bilang "cek DM". Beda dengan yang followersnya sedikit: harus nyusun outline sendiri, nulis sampe kelar dulu, baru bisa disetujui atau ga.

Gue termasuk yang ditawarin. Tapi bedanya, gue ditawarin dari blog, bukan followers \o/

Nah, itu mending, vin.

Selain kesempatan untuk memulai, kesempatan untuk dipromosikan secara besar-besaran juga lebih tinggi bagi mereka dengan followers ribuan. Karena faktanya, memang orang dengan followers lebih banyak mampu memancing animo lebih tinggi ketimbang mereka dengan followers yang lebih sedikit.

Tapi kesempatan bukan berarti keberhasilan. 

Hidup penulis dengan followers sedikit! 

Hidup! \o/

Eh iya, kenapa milih tagline blog "a life enthusiast"?

Blog gua banyak berisi ocehan-ocehan yang ngawur atau cerita-cerita yang ringan tentang keseharian. Tujuan utamanya sih berbagi untuk menghibur. Tapi kalo dibaca pelan-pelan, biasanya suka ada hal-hal yang bisa dipetik dan dipelajari. Dan semoga, bisa membuat yang baca semakin antusias terhadap hidup.

Nah, terakhir nih.. pesan apa sih yang pengin bang Roy sampein melalui buku dan film Lontang-Lantung? 

Lewat buku Lontang-lantung, gua ingin berbagi semangat bersyukur. Bahwa apa yang dipunya sekarang harus dijaga baik-baik, apa yang dipunya sekarang harus dinikmati benar-benar.

Dan juga jangan pernah membandingkan. Karena ketika kita mulai membandingkan, di saat itulah kita kehilangan kebahagiaan.

34 komen absurd

Kevin, Bang Roy, followers gue dikit loh .____.
Btw, sukses buat buku dan filmnya nanti ya.

Reply

Awalnya gue juga aneh, kenapa banyak orang yang pake tas tadi didepan dibandingkan dibelakang waktu di halte busway. Ternyata rawan copet, dan gue merasakan itu sendiri :D
Roy emang keren, nggak kalah keren juga elo vin udah punya buku sendiri ha ha..
Kerja bukan berarti menjadi penghambat dalam berkarya, iya.
nice post :)

Reply

wah. kudu beli nih novel
udah mau tamat kuliah gua nih. haha
bisa jadi bahan referensi
nice post vin

Reply

y harus beli novel bg roy ma buku mu vinnn... Moga2 ada waktu senggang untuk beli nya ...

Reply

Waah kali ini gilirannya Bang Roy, gue udah beli novelnyah~

Gue suka sama kata2nya Bang Roy yang penerbit banyak keberpihakan sampai2 sekarang banyak akun twitter yang gaje pada bikin buku, padahal sebenernya tulisannya biasa-biasa aja...

Bang Roy telah mewakili para penulis dengan followers dikit~

Tapi agak sedih juga denger berhenti mau nerbitin buku dulu -___- apakah semua penerbit itu sama Bang Roy? :|

Reply

Memang, Transjakarta itu keras. Hahaha. Elo juga keren kok, ting \o/

Reply

Wogh, buku gue juga sekalian~

Reply

Yap, biasanya yang kayak gitu garing. Hidup penulis dengan followers dikit! \o/

cc: @saputraroy

Reply

huahahaha semua keluh kesah dan keresahan ini udah pernah dibahas :))
hidup undergr... ah sudahlah :))

Reply

gue setuju banget kalau hidup itu jgn pernah membandingkan, apalagi masalah hati *curhat*

Reply

<- baru saja membaca percakapan keren dari dua orang keren. Keren.

Reply

Lah, bener ini :))

Reply

Anda adalah teman yang keren sekali. Keren.

Reply

udah cek blognya kang roy, ternyata keren juga. udah bikin banyak buku. ckckck... mesti baca yg lontang-lantung

semoga followers nggak ngancurin kreatifitas :))

Reply

industrinya yang lagi ga sehat. gua tetap berkarya, via blog :D

Reply

Haha, wajib baca blognya bang Roy :D

Reply

thank you untuk dukungannya :D

Reply

AASyiikk, dapet ilmu tambahan baru nih dari Bang Roy nih, jadi semangat pengen nulis buku juga, hahaha, kevin thanks yaa udah wawancara beliau!

Reply

Obrolan sesama penulis itu emang berbobot banget, deh. :))
Dan, bener banget kata bang Roy tuh. Larisnya sebuah buku, sekarang bukan dilihat dari kualitasnya. Tapi, jumlah followers-nya.

Reply

Dia salah satu blogger yang gw tunggu2 postingannya....

sukses Roy sukses Kevin

Reply

"Dan juga jangan pernah membandingkan. Karena ketika kita mulai membandingkan, di saat itulah kita kehilangan kebahagiaan."

Gue suka kata - kata ini.

Reply

Sekali lagi ah, 'hidup penulis dengan follower sedikit!', ini terlalu mewakili gue banget. Muehehehe.

Hal lainnya terima kasih tip cara membuat outline yang baik. Hihihihi. Keren Om Roy. Semoga gak lama-lama vakumnya :)

Vin, buku lo sadis kerennya :))

Reply

semangat para calon penulis dengan follewer sedikit..tunjukkan kualitas bukan folower

Reply

Haha, sama-sama :D

Reply

Haha, makanya sekarang bang Roy berhenti nerbitin buku dulu..

Reply

Yap, bener banget :D Gue juga selalu nunggu postingan2nya bang Roy, loh hehe.

Reply

Super banget ya kata-katanya \o/

Reply

Hidup! *toss*

Makasih, bro! :D

Reply

Bener! Followers mah cuman bonus hahaha

Reply

Poskan Komentar

Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan komentar yang sopan. Nggak perlu promosi link blog, kalo sering-sering mampir, pasti dapet feedback kok. Tanpa para pembaca, blog ini bukan apa-apa. Hehe. Salam, Kevin Anggara (@kevinchoc).