Kembali

Selamat datang lagi dan KEMBALI.

Iya, gue tahu udah lama banget nggak menulis di blog ini. Gue nggak akan menggunakan kalimat klise seperti: saking lamanya ditinggal, blog gue udah ada sarang laba-labanya. Atau, saking lamanya ditinggal, blog gue bukan hanya ada sarang laba-labanya, tapi lengkap dengan ekosistemnya. Intinya, gue udah jarang menulis sesuatu di blog ini. Lalu, apakah gue masih menulis? Jawabannya: masih.
Setiap bikin video misalnya, gue selalu nulis skrip dulu sebelum shooting. Karena orangnya perfeksionis, gue pengin apa yang gue omongin benar-benar matang dan itulah yang pengin gue kasih liat ke orang-orang. Padahal aslinya untuk durasi gue ngomong tiga menit, video mentahnya aja bisa sampai tiga puluh menit sendiri sebelum diedit. Ditambah cara ngomong gue yang cepat, makanya durasi video gue biasanya “singkat”, benar-benar padat. Prinsip gue: kalau bisa cepat, ngapain dibikin lama. #themoreyouknow
Setiap ada tugas makalah di kampus, gue selalu menjadi penulis sekaligus editornya. Gue adalah orang terakhir yang mengecek tulisan dan tanda baca, lalu memastikan makalahnya siap untuk di-print. Entah kenapa, kalau bukan gue yang jadi orang terakhir, di dalam diri gue ada sesuatu yang membuat gue merasa bersalah dan nggak nyaman. Nasib jadi orang perfeksionis. Apakah gue selalu perfeksionis di setiap waktu? Oh, tentu tidak. Kadang, rasa malas gue mengalahkan keinginan gue untuk menjadi perfeksionis.
Buat yang belum tahu, perfeksionis adalah sebuah keinginan seseorang untuk memastikan semuanya bagus dan sempurna. Bagus dan sempurna menurut orang itu tentunya. Jadi bagus menurut gue, bisa aja beda dengan bagus menurut kalian. Kembali lagi ke selera, nggak akan pernah salah kayak cewek*. Lanjut.
 
*Oke, itu jokes doang ya teman-teman netizenku yang budiman. Karena membuat jokes yang tidak menyinggung siapapun di 2017 sama susahnya dengan mengumpulkan niat untuk mandi di pagi hari.
Di salah satu kelas yang gue ikuti di kampus, ada pelajaran dasar untuk menulis skrip film pendek. Di mana setiap orang nantinya diwajibkan untuk menyetor sebuah tulisan berisi sinopsis dan premis sebuah film pendek (yang terpilih, akan dijadikan film beneran). Karena anaknya senang eksperimen, gue membuat sebuah sinopsis dan premis film pendek dengan genre horror. Pertemuan berikutnya, satu kelas duduknya dibuat melingkar, masing-masing nanti akan mengoper hasil tulisannya ke teman di sebelah kanan, begitu terus sampai tulisannya kembali ke tangan sendiri. Kalau suka dengan sinopsis dan premisnya itu, kita disuruh untuk memberikan vote di pojok kanan atas. Begitu tulisan yang gue buat selama lima belas menit itu kembali ke tangan, gue melihat jumlah vote di pojok kanan atas kertas jumlahnya hampir setengah kelas.
Which is… naskah gue masuk nominasi dulu, untuk kemudian dipilih lagi sama dosennya.
Pertemuan berikutnya, satu kelas duduknya udah nggak melingkar. Kami semua udah disuruh membuat kelompok beranggotakan lima sampai enam orang sebelumnya, lalu dosen pun mulai untuk mengumumkan. Begitu melihat kelompok gue, dosen langsung mengenali dan memberikan sinopsis film horror gue untuk dijadikan film. Anjir. Padahal di kelompok gue, ada tiga orang termasuk gue yang tulisannya masuk nominasi. Ini dosen malah langsung ngasih sinopsis gue tanpa basa-basi, pikir gue.
Yang selanjutnya, gue akan menyebut ini sebagai tugas akhir.
Karena sinopsis udah terpilih, tanggung jawab gue semakin besar karena harus mengembangkan sinopsis itu menjadi treatment (skrip tanpa dialog), lalu dikembangkan lagi menjadi skrip utuh (dengan dialog). Bulan demi bulan berlalu, tugas akhir ini akhirnya berhasil digarap dengan beberapa perubahan skrip oleh keputusan bersama dan produksi yang apa adanya. Di akhir semester tiga, ada semacam awards untuk mata kuliah ini, dan film yang lagi gue bahas memenangkan kategori Best Editing / Editor. Thanks to kelompok gue.
 
Filmnya nggak di-publish ke mana pun, tapi kalau yang mau nonton banyak, gue akan coba minta izin ke teman-teman kelompok untuk meng-upload ini secara private. Link akan di-share di sini aja.
Kesimpulannya, gue masih menulis. Walaupun jarang di blog ini, tapi gue masih tetap menulis. Iya, habis ini bakal banyak yang nanyain gimana kabar buku ketiganya ketimbang nanyain kabar penulisnya. Gue nggak mau memberi janji yang belum tentu bisa gue tepati, karena risikonya akan bikin orang kecewa. Tapi, dengan senang hati gue akan memberi tahu, bahwa proses penulisannya akan mulai berjalan tepat di bulan ini. Kapan selesainya? Sayang sekali, gue nggak mau memberi janji yang belum tentu bisa gue tepati. Satu hal yang bisa gue bilang adalah tunggu aja. Jadi, saatnya untuk pengalihan isu. Gimana kabar kalian semua?
Sekalian survey kecil-kecilan. Ngapain aja selama gue nggak menulis di blog ini? Apakah kalian menunggu tulisan-tulisan gue di sini? Siapa nama anaknya Naruto kalau dia nikah sama Sakura?
Bagi gue, menulis adalah salah satu cara untuk berbagi. Ketika gue nggak tahu mau ke mana, gue menulis. Ketika gue bingung mau ngapain, gue menulis. Ketika internet di kamar mati, gue protes ke F1rstmedia.
Menulis bagi gue itu sama kayak Yeezy bagi Kemal Palevi. Nggak ada yang misahin. Gue percaya, dengan menulis, kita bisa melakukan hal-hal yang cuman bisa kita bayangin. Lah, emang iya ya? I mean, kita nggak mungkin bisa terbang bebas ke atas awan tanpa sayap, tapi kita bisa melakukan itu dengan menulis. Kita nggak mungkin bisa menyembuhkan orang yang lagi patah hati hanya dengan membelikan es krim, tapi kita bisa melakukan itu dengan menulis. Masih banyak hal lain yang bisa dilakukan hanya dengan menulis. Karena gue percaya, we can make anything with writing. Words have the power to both hurt and heal.
So, use them wisely.
Kevin
Ini biar dramatis aja fotonya.

61 Comments

Leave a Reply