Tugas Itu Hanya Mitos

Gue udah masuk kuliah lagi. SKS-nya memang lebih dikit. Tapi, tugasnya jauh lebih banyak dan ribet. Dosen-dosen baik layaknya orangtua sendiri di semester dua udah mulai berkurang. Yang ada hanya dosen-dosen berhati killer di balik tampang yang lembut seperti anak kecil. Dosen yang nggak memberikan mahasiswanya memotret presentasi atau catatan di papan lewat handphone. Dosen yang hanya menerima acc (persetujuan) di waktu-waktu tertentu. Dosen yang sering absen dan ngadain kelas pengganti seenak jidat.
Sekarang gue udah ngerasain sedikit asam-garam kuliah. Serius. Di kampus, pepatah “Dosen adalah Tuhan” itu berlaku. Dosen selalu benar walaupun salah. Gue telat 10 menit diomelin, dosen telat 10 menit gue lagi yang diomelin, “Kamu sih yang datengnya kepagian!” LAH?!
Tugas Itu Hanya Mitos
Foto diambil saat kelas pukul delapan pagi tapi dosennya belum datang.
Dari dosen yang baik kayak malaikat sampai ganas kayak singa-belum-makan-tiga-hari, semuanya ada di kampus. Kuliah itu nggak sama kayak yang di TV atau film-film. Datang dengan wajah bahagia, menyapa teman dan dosen dengan ceria, mengerjakan tugas dengan gembira, serta lulus tepat waktu dan membanggakan orangtua. Kuliah tidak seindah itu, teman.
Ada aja halangan kayak dosen-dosen yang subjektif. Ketika dosen ini nggak suka sama lo, jangan ngarep bisa lulus mata kuliah itu dengan mudah. Bisa-bisa, lo fail mata kuliah ini karena alasan sepele: dia nggak suka sama lo. Mau marah? Nggak bisa. Dosen adalah Tuhan. Lo mau marah sama Tuhan? Dosa. Masuk neraka.
Untungnya, gue belum punya masalah dengan dosen-dosen yang subjektif itu. Jangan sampai. Cukup mendengarkan ceritanya dari teman-teman kuliah gue yang udah senior. Itu udah lebih dari cukup.
Tugas itu hanya mitos. Kuliah? Nggak usah ngerjain tugas. Tugas yang ngerjain kita.

101 Comments

Leave a Reply