Kuliah vs. Sekolah

Kuliah itu beda jauh sama yang namanya sekolah. Gue udah (kurang lebih) sebulan jadi mahasiswa. Dan gue merasakan banyak sekali perbedaannya. Dari teman-temannya, dosennya, mata pelajarannya (mata kuliah), sampe peraturan-peraturannya. Gue sih udah lumayan bisa adaptasi dengan lingkungan yang baru ini. Tapi, awalnya juga masih sering terbawa sama kebiasaan pas masih di sekolah. Contohnya pas mau ke toilet, harus izin dulu. Dosen dateng, bawaannya pengin berdiri dan beri salam. Semacam itulah.
Di kuliah, enaknya kita bisa ke toilet tanpa harus izin dulu. Di kampus gue sendiri (UMN), diberikan jatah 15 menit waktu telat. Lebih dari itu, dianggap absen. Jadi kalo ada mata kuliah pukul delapan pagi, gue bisa datang paling telat pukul delapan lewat lima belas menit. Musti dimanfaatkan.
Di kuliah, bajunya bebas. Jadi makenya enak dan nggak bikin cepet bosen. Nggak kaku kayak seragam sekolah yang kena keringet dikit langsung lepek. Temennya juga nggak itu-itu doang. Kalo menurut gue, circle pertemanan di kuliah itu jauh lebih luas ketimbang di sekolah. Di kuliah, gue bisa temenan sama siapa aja yang gue temui. Entah itu senior, sesama mahasiswa baru, atau bahkan dosen.
Di kuliah, banyak diadakan seminar-seminar yang cukup bagus dan bisa memotivasi. Lumayan buat mengisi waktu kalo lagi nunggu mata kuliah berikutnya. Karena kampus gue di UMN (kepunyaan Kompas Gramedia), kadang ada acara Stand Up Super Seru yang bisa bikin kampus jadi nggak jenuh.
Di kuliah, Unit Kegiatan Mahasiswa-nya (ekskul) juga banyak banget. Dan yang menurut gue keren, kegiatan kemahasiswaan di luar kelas ini diadakan oleh mahasiswanya sendiri (biasa sih senior). Udah lumayan banget lah buat mencoba aktif di kampus dengan cara mengembangkan minat dan bakat lewat UKM.
Kalo ada yang bilang sekolah lebih asik ketimbang kuliah, gue nggak setuju. Yang bikin kangen dengan sekolah itu menurut gue cuma satu: teman-temannya. Coba aja teman-teman sekolah kita satu kampus, satu program studi, dan satu kelas. Asiknya jadi double.
Kuliah itu ada ada dua, swasta dan negeri. UMN sendiri termasuk perguruan tinggi swasta. Gue masuk ke UMN dengan jalur prestasi. Jadi nggak mahal-mahal banget lah uang pangkalnya. Tapi kalo dibandingin sama negeri, masih termasuk mahal. Yah, masing-masing perguruan tinggi punya kelebihan dan kekurangannya lah. Gue masuk ke UMN karena ada jurusan yang gue minati. Dan karena pengin tinggal sendiri juga sih. =))
Nah, buat pembaca blog gue yang masih sekolah dan berniat melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi negeri, tentunya harus melewati yang namanya SBMPTN, kan? Kemarin, gue nemu video yang menarik ini:
Quipper video ini adalah sumber belajar untuk persiapan agar bisa lolos SBMPTN. Ada tiga hal menarik yang ditawarkan. Pertama, Quipper video mempunyai tutor-tutor video terbaik. Kedua, konten SBMPTN yang komprehensif (anjay!) dan efisien. Ketiga, konten tersedia secara online. Jadi gampang dan mudah digunakan kapan saja. Apalagi di zaman sekarang yang semuanya udah serba canggih.

Quipper video ini jadi kayak tempat les online. Nggak perlu lagi dah panas-panasan pergi ke tempat les beneran. Tinggal nyantai di kamar sambil buka materi videonya lewat hape. Masih ragu? Coba deh bandingin sendiri dengan biaya bimbel atau les yang lainnya:

Keuntungan Quipper

Nah, buat yang mau gabung dan ikutan, bisa langsung klik di sini. Semoga bisa membantu teman-teman pembaca yang mau masuk ke perguruan tinggi negeri.

Untuk merayakan Hari Batik Nasional yang jatuh pada 2 Oktober 2015 kemarin, gue dan beberapa teman sekelas janjian untuk memakai batik ke kampus:

Iya, gue yang paling kiri itu.

Pas mata kuliah petama juga gue telat dateng hampir lima puluh menit. Tapi, gue boleh tetap masuk karena harus presentasi dan udah diabsenin sama teman yang kebetulan ketua kelas. Itulah enaknya kuliah. =))

63 Comments

Leave a Reply to Anonim Cancel reply