From Zero to Hero


Sebelumnya, biarkan gue mulai dengan menceritakan tentang awal mula gue nge-blog dan tentang lahirnya blog ini. Gue baru mulai nge-blog sejak tahun 2011. Di dunia internet, pertama kali gue masih ngaskus. Iya, gue belum tau apa itu blog. Waktu itu, secara nggak sengaja gue baca buku Raditya Dika yang kebetulan tergeletak tak berdaya di kamar gue. Buku ini punya abang gue ternyata.


Setelah gue baca, ternyata ini orang kampret banget. Lucu abis, sob. Dari tulisan, ternyata seorang penulis bisa menyampaikan sebuah pesan melalui cerita yang dipadukan komedi dengan sudut pandang yang unik. Gue mulai tertarik untuk mencoba nulis. Waktu itu, gue baru tau bahwa ternyata buku pertama Radith adalah hasil-hasil tulisannya dari blog. Keren abis. Gue juga pengin jadi penulis.

 

Blog pertama gue di tahun 2011 isinya ya curhatan/cerita-cerita ngaco seorang pelajar. Tentang pengalaman saat di MOS, dihukum guru, diomelin kakak kelas dan sebagainya. Waktu itu gue masih inget, gue baru kelas 2 SMP. Blog gue ini juga pembacanya masih dikit, gue jadi males nulis postingan dan alhasil… gue lupa password blog pertama gue ini. PAHIT. Nggak menyerah, gue malah semakin bersemangat untuk aktif nge-blog lagi. Gue juga pengin jadi penulis. 
 
Blog yang sekarang kalian baca ini tercipta awal 2012. Dengan tema dan nama “Pelajar Absurd”. Alasan gue memakai nama ini simpel, karena gue sendiri masih seorang pelajar saat itu (sekarang juga). Gue pun bingung, kata apa yang harus gue pakai untuk melengkapi kata pelajar? Gue browsing sana-sini, blogwalking dari blog satu ke blog lainnya, tapi nihil. Nggak dapet referensi apa-apa. 
 
Tapi, kenapa gue nggak coba main ke blog si Radith? Siapa tau gue dapet referensi? Gue terus coba browsing dan blogwalking, akhirnya sampailah gue di blog si Radith. Judul blognya: Raditya Dika dan Hal Absurd lainnya. Hmm, absurd? Jujur, saat itu gue baru pertama kali melihat kata absurd. Gue coba translate lewat google, ternyata absurd artinya kurang lebih begini: konyol, menggelikan, nggak masuk akal.
 
Wah, gue langsung tertarik dan coba menggabungkan kata pelajar dengan absurd. Dan jadilah Pelajar Absurd.
 
The Story Begins
 
Gue mulai aktif nge-blog. Mulai kenal sama penulis dan blogger-blogger terkenal yang akhirnya menginspirasi gue. Siapa aja? Baca di sini, deh. Blog gue mulai berkembang seiring gue rajin nulis postingan. Gue suka nyuruh temen-temen sekolah gue untuk baca postingan gue, supaya bisa memotivasi gue untuk lebih semangat. 
 
Pengen mengasah kemampuan nulis, gue lalu mencoba untuk iseng ikutan lomba blog (nulis) buat dapetin Sony Vaio. Hitung-hitung nambah pengalaman. Sayang, semesta belom mengizinkan gue untuk menang. Gue belajar dari pengalaman itu, melihat kekurangan gue dimana, dan mencoba untuk memperbaikinya. And this, postingan lomba blog pertama gue.
 
4 bulan kemudian, sekitar bulan November 2012, gue ikutan lomba blog dari JNE. Temanya: Pengalamanku Bersama JNE. Kebetulan, gue juga punya sedikit pengalaman selama kirim-kirim barang/terima barang dengan JNE. Gue menuangkan ide-ide dan pengalaman yang gue alami, dan singkat cerita, tulisan gue terpilih masuk 22 besar dan berhak mendapatkan voucher belanja Rp100.000. Lumayan, awal yang bagus menurut gue. 
 
Waktu itu, Alitt (@shitlicious) juga ikutan, dan nasibnya sama kayak gue — 22 besar. Sayang, semesta belom mengizinkan gue untuk masuk 3 besar. Tapi nggak apa-apa lah. Lebih baik dari yang sebelumnya. 
 
Seiring waktu berjalan, gue semakin sering nulis di blog. Iya, walaupun cuman tulisan absurd. Tapi, gue senang bisa berbagi dengan para pembaca lewat tulisan. 
 
Ke-absurd-an blog gue pun membawa berkah. Gue dihubungi editor dari salah satu penerbit. Dia mengenal gue dari blog absurd ini, yang gue pelihara setahun belakangan. Singkat cerita (lagi), setelah pertemuan itu, gue pun membuat sebuah naskah. Naskah pertama buku gue. Selama 2–4 minggu gue aktif di depan komputer, mengetik naskah. Hasilnya? Sekarang, buku pertama gue (Student Guidebook for Dummies) udah terbit, dan tinggal launching ke Gramedia. Perjalanan gue bertemu editor ini udah pernah gue ketik di sini dan sini.
 
Semakin sering gue nulis, ternyata hasil tulisan gue juga ikutan berkembang. 
 
April 2013, gue lalu mencoba ikutan lomba blog, lagi. Waktu itu, salah satu seller Rubik’s langganan gue mengadakan lomba review. Review tentang toko rubik si seller. Kebetulan, gue pengen menceritakan pengalaman gue juga dengan rubik, sekaligus memasukan sedikit review-review dan “testimoni” tentang toko itu. Iya, gue ikutan. 
 
Di bulan yang sama, gue yang sedang patroli di timeline twitter melihat sebuah info lomba blog. Lomba blog Teknologi Hijau dari blogdetik dan Daihatsu. Jujur, gue nggak membayangkan hadiahnya saat itu. Yang gue tau, gue paham dengan tema yang akan dibahas, dan tergeraklah tangan gue untuk mengetik apa yang gue tau ini di blog. Iya, gue ikutan. 
 
Kenapa gue ikutan kedua lomba blog diatas? Kebetulan, gue paham dengan tema yang akan dibahas. Rubik, ini permainan sehari-hari gue, dan semua rubik yang gue punya, gue beli dari toko yang mengadakan lomba itu. Teknologi Hijau, ini adalah pembahasan yang menarik bagi gue. Selain tergabung dengan komunitas pecinta lingkungan di Kaskus, gue juga sering baca-baca artikel tentang teknologi ramah lingkungan. Jadi, gue lumayan paham.
 
From ZERO to HERO
 
Semesta mempertemukan gue dengan 2 kebetulan ini. Di bulan April 2013, gue menyelesaikan 2 postingan tentang lomba blog, dan 8 postingan absurd lainnya (liat aja Widget “Cerita2 Absurd Gue” pada bulan April). Jadi, total 10 postingan dalam 1 bulan. Lumayan produktif. 
 
Mei 2013, kebetulan lagi, 2 lomba blog yang gue ikuti akan mengumumkan pemenangnya. Tanggal 14 Mei 2013, gue diberitahu oleh seller rubik, bahwa gue juara pertama dalam lomba review yang diadakan olehnya. Nggak nyangka, ternyata orang absurd kayak gue bisa juara pertama dalam lomba ini. Postingannya bisa kalian baca di sini.
 
Nggak cukup sampai disitu, 18 Mei 2013, sekitar pukul 05:00 pagi, gue terbangun dari tidur. Sebagai anak gaul, setelah buka mata, gue langsung ngecek twitter. Banyak mention yang masuk ngucapin selamat karena katanya gue udah menang lomba blog Teknologi Hijau. Gue ngomong dalam hati “Ah becanda lo… ini mimpi kayaknya, gue belom bangun.” 
 
Gue lalu ngecek website blogdetik dan….. bengong dulu sekitar 30 detik. Agak nggak percaya. Gue menyadarkan diri kembali dan melihat nama blog gue ada di urutan paling atas. Iya, gue juara pertama lagi! FYI, hadiahnya iPhone 5. Postingannya bisa kalian baca di sini.
 
I deserve it.
 
From Zero to Hero
Lomba nulis dari Kaskus dan JNE.
 
From Zero to Hero
Lomba nulis di Kaskus lainnya.
 
From Zero to Hero
Lomba review di blog.
 
From Zero to Hero
Lomba #TeknologiHijau
 
Sekarang, semesta bener-bener mengizinkan gue untuk aktif nulis.
 
Sebenernya, sebelum pengumuman lomba juga gue udah pernah bilang bahwa nggak penting gue menang atau kalah. Sama aja. Yang penting gue bisa berbagi sama semua orang dan pembaca lewat tulisan. Yeah, i do what i love, and i love what i do. Menurut gue, hadiah itu HANYA apresiasi atas apa yang gue tulis. Gue menempatkan hadiah di posisi kedua. Posisi pertama? Respon dari para pembaca. Iya. Itu lebih penting, bagi gue.
 
Sebuah tulisan tanpa para pembaca itu kosong. Ibarat bumi tanpa ada manusia di dalamnya. Jadi, berterimakasihlah kepada semua pembaca yang sudah meluangkan waktu untuk membaca tulisan kalian. Tanpa para pembaca setia, tulisan kita bukan apa-apa. – Kevin Anggara, 16 tahun, pelajar absurd.
 
Menurut gue, nge-blog itu adalah lebih kepada berbagi dengan para pembaca. Bukan begitu? Hehe. Nggak sampai situ aja, gue pernah diundang ngisi acara kopdar SFTH Kaskus. Jadi, gue dikasih sesi untuk jadi pembicara gitu. Semacam talkshow pertama lah bagi gue. Nih, buat yang mau baca field report-nya di sini.

From Zero to Hero
 
Perception
 
Semenjak Kemal Palevi terkenal lewat ciri khas absurd-nya di Standup Comedy, apa-apa yang berkaitan dengan absurd pasti dibilang “meniru” Kemal. Padahal, belum tentu maksud orang yang memakainya begitu. Masih banyak contoh lain yang mirip kayak gini. Misalnya blog dengan judul “catatan sesat mahasiswa” pasti dibilang “meniru” Alitt, padahal belum tentu maksudnya begitu. Menurut gue, mungkin mereka hanya terinspirasi. Yah, namanya juga hidup. Biar orang yang menilai diri kita. 
 
Mungkin itu aja yang bisa gue sampein kali ini. Gue rasa udah kepanjangan, yah. Oh iya, mengenai nama absurdisme, gue udah jelasin darimana awal mula namanya di sini. Yang kalian baca ini adalah sedikit kisah perjuangan gue selama nge-blog sampai sekarang. Sebuah awal pahit yang berakhir manis. Percaya sama gue, setiap usaha kalian pasti ada hasilnya, sekecil apapun itu. Jadi, jangan cepet nyerah dan putus asa. If you can see it, you can have it. Sometimes, you need to be freak to create something great.
 
Sebelum postingan ini berakhir juga, gue pengin ngucapin terimakasih banyak buat pembaca setia blog gue ini. Dulu yang blog gue bukan apa-apa, masih NOL, dan pembacanya sedikit. Sekarang, udah bisa berkembang dan meningkat lumayan bagus. Tanpa kalian semua, gue bukan apa-apa. Terimakasih! :’)

Mau dapet email setiap ada postingan baru?


This Post Has 61 Comments

  1. Agnes Nagari

    nyesel deh, baru nemu blog ini sekarang
    sangat menginspirasi banget. gutt gutt

  2. Unknown

    Duh, keren banget vin perjuanganmu ngeblog. Bener-bener konsisten..
    Semangat vin, posting terus biar para pembaca tambah puas dengan hasil karyamu.
    Aku emang bukan pembaca mu dari awal, tapi sengaja aku ini terdampar entah gegara apaan. Hahaha…
    Ngomong-ngomong kamu 97? Seumur ama aku ya? *plak (gak ada yang nanya)
    aku uda menjelajah semua isi youtube kamu, dan aku puassss… kereen, bener-bener kreatif!!!! Semangat!

  3. Unknown

    Thanks kak
    Semoga blig saya bisa kayak kak kevin

Leave a Reply