Dulu, gue pernah bercanda dengan foto sebuah kalkulator hadiah dari acara seminar, upload di Instagram dengan caption, “Buat ngitung followers.” Kalo lu mau cari post-nya, udah nggak ada.

Kalkulator

Sekarang, akun Instagram gue punya sekitar lebih dari 900 ribu followers, yang kalo dikonversikan menjadi mata uang negara Kamboja terus dibelikan es kopi susu kekinian… bisa lah buat stok minum sampai 3 bulan ke depan. Followers segitu menurut gue sangat banyak untuk ukuran gue yang jarang bikin “konten” ini. Dari awal terjun ke dunia perkontenan, gue nggak punya ekspektasi apa-apa terhadap konten yang gue bikin. Gue nggak punya ekspektasi konten gue akan disukai sama orang banyak atau dinikmati sampai sekarang. Yang gue tau, gue bikin sesuatu karena memang gue lagi pengin bikin pada saat itu. Nggak mikirin output yang akan gue dapatkan di kemudian hari. Dengan alasan tadi, bukan hanya gue, tapi orang lain juga saat ini menganggap gue jarang bikin konten.


Padahal dulu* kan sering?

*Referensinya ini konten gue seputar video komedi di sekolah beberapa tahun lalu.

 

Dulu atau sekarang, kalo ngomongin bikin konten, gue masih sama aja. Mungkin, dulu gue dianggap sering upload karena ya…. gue sekolah lima kali dalam seminggu dan setiap hari ada aja ide di kepala yang pengin gue keluarkan lewat video.


Tapi, bukannya sekarang semua kewajiban udah selesai? Banyak waktu kosong dong buat bikin konten?

 

Gue jawabnya sesimpel… ya gue lagi nggak mau bikin aja.


Konten yang gue bikin melahirkan atensi. Atensi yang lebih lanjut mungkin menarik orang untuk menekan tombol follow. Satu klik tombol follow membuat angka followers di akun gue bertambah. Tapi, apa jadinya kalo gue nggak bikin konten? Coba liat deh, ada lebih dari 900 ribu followers di Instagram gue. Gue yakin banget, banyak akun yang udah nggak aktif atau lupa pernah follow gue karena konten yang dulu gue bikin. Jadinya? Angka itu ya cuman angka aja. Gue secara nggak langsung punya beban kalo semua aktivitas gue yang dipublikasikan akan dilihat banyak orang yang mungkin beberapa di antaranya udah nggak relevan sama gue. Nyatanya, yang aktif nggak sebanyak 900 ribu itu. Jadinya? Angka itu ya cuman angka aja.


Lah, bukannya enak punya banyak followers?

 

Mari kita bahas enaknya dulu.


Enak punya followers banyak. Ada yang mau endorse dan ngirimin produk jualannya secara gratis, banyak orang yang submit pertanyaan di stiker “Ask me a question”-nya kalo ngadain Q&A, atau mungkin bisa pamer, “Gue udah bisa swipe up loh!” ke teman-temannya. Apa lagi, ya? Nggak bisa mikir lebih banyak.


Mari kita bahas nggak enaknya sekarang.


Nggak enak punya followers banyak. Nggak upload bentar ditanyain terus. Diwajibkan secara nggak langsung untuk membuat konten yang mendidik. Dianggap punya platform besar dan harus menggunakan suaranya sesuai dengan standar moral orang lain. Berbeda pendapat sedikit, cancelled. Persentase lebih besar mendapatkan komentar random dari orang nggak dikenal. Menyanggah komentar yang membuat nggak nyaman, dibilang baper. Setiap sifat dan aksi yang dilakukan harus sesuai dengan ekspektasi orang lain (lagi-lagi). Dan masih banyak lagi, lagi, dan lagi.


Memang, semua hal di atas tergantung bagaimana seseorang menggunakan, so called, platform-nya. Semua ini 100% subjektif. Untuk gue yang nggak peduli sama omongan orang lain, gue tinggal tutup mata dan semua poin di topik nggak-enak-punya-followers-banyak akan hilang dengan sendirinya. Tapi tetap aja, itu nggak menutup fakta bahwa gue tetap mengalaminya, walaupun udah berusaha untuk nggak ngeliat.


Analoginya mungkin seperti pisau bermata dua. Tapi untuk kasus ini, kok gue menganggap satu sisinya lebih tajam, ya? Atau cara gue megang pisaunya aja yang salah? Apa dari awal nggak usah diambil pisaunya?


Kalo bisa milih (dari yang dulunya nggak punya followers banyak vs. sekarang udah punya followers banyak), gue milih nggak punya followers banyak. Nggak apa-apa deh konten yang gue bikin penontonnya dikit, duit yang gue punya dikit, brand yang kenal gue dikit atau bahkan nggak ada, dibanding gue harus ngeladenin orang yang ngajak foto pas gue lagi makan KFC pake tangan, difoto diam-diam tapi pake flash di dalam lift, diliatin kayak binatang di kebun binatang pas lagi jalan santai. Awalnya gue kira gue alien, tapi ternyata masih manusia kok.




Sayangnya, gue nggak punya mesin waktu beneran. Jadi, nggak banyak yang bisa gue lakukan juga selain melakukan filter secara manual. Kalo ada yang gue anggap mengganggu, tinggal report, block, mute, dan sebagainya biar gue tetap fokus sama yang perlu-perlu aja. Setidaknya, itu hal yang bisa tetap bikin gue waras di lingkungan internet yang udah cukup wadaw ini.


Wah, kok lebih banyak negatifnya ya? Gue rasa karena dari awal bikin konten, gue nggak punya tujuan muluk-muluk selain ngisi waktu dengan hal baru atau sekadar mengeluarkan isi pikiran.


Gue udah pengin nulis ini dari lama, tapi baru kesampaian sekarang. Nggak, nggak ada yang secara spesifik men-trigger gue saat memutuskan menulis ini. Gue yakin, tulisan ini akan punya interpretasi yang berbeda tergantung sudut pandang mana yang lu pakai. Yang mana pun, nggak jadi masalah.


Beberapa waktu lalu, gue iseng survei alasan orang-orang follow gue (iya, dengan fitur stiker “Ask me a question” dari Instagram), tapi nggak sedikit yang responnya malah menganggap gue lagi kenapa-kenapa (btw, terima kasih perhatiannya). Padahal, itu cara gue buat tau mana dari mereka yang masih menganggap gue manusia. Tapi yang namanya manusia, ada aja memang yang ngehe. Yang selalu komen “First” atau quotes hasil copy paste buat menang giveaway di setiap postingan yang padahal nggak ada giveaway-nya sama sekali.


Semoga orang-orang yang baca ini masih menganggap gue manusia.


Dengan berhenti melihat gue sebagai alien yang angka followers-nya kebetulan jika dikonversikan menjadi mata uang negara Kamboja terus dibelikan es kopi susu kekinian bisa untuk stok minum sampai 3 bulan. Karena angka itu ya cuman angka aja. Apa lagi sampai spam DM, “Day-218 sampai di-notice!” ke gue. Ini sih jelas nggak akan dibalas. Bukan, bukan karena saking banyaknya DM yang masuk terus nggak bisa dibalas semuanya, tapi karena gue tau ada banyak cara untuk mendapatkan atensi, tapi template aja nggak cukup karena kebetulan… gue masih manusia.

Mau dapet email setiap ada postingan baru?


This Post Has 85 Comments

  1. Handayat

    Wah begitulah kira-kira sisi gelap dari menjadi terkenal ya, bang? Untung saya sampai sekarang belum terkenal, dan jangan sampai deh. Mending duit banyak daripada followers banyak. Terimakasih atas sharing-nya!

  2. Jevan Darrell

    manusia ya manusia, bikin video gak kepengen karena video kan nggak langsung jadi, kan kita manusia.

  3. Naufal

    mantap

  4. halo

    mantap

  5. Seorang Insan yang ingin berubah

    Kadang gue mikir. Kasian juga kalo jadi public figure. Mau ngelakuin suatu hal aja, ada yang minta foto. Jadi pas gue bengong, gue mikir kalo gue ketemu public figure ditempat umum, gue nggak mau minta foto sama mereka. Karena ya.. kasian sama mereka. Mereka punya kehidupan sendiri yang nggak harus diganggu.

  6. Pala botak

    Serba salah sih kak,kepengin terkenal,tp takut kayak Abang nasibnya😀.Tp kalo gak terkenal hidup seperti hitam putih,tidak berwarna.

Leave a Reply to Daniel Cancel reply