Semua orang seneng main game. Termasuk gue. Main game adalah salah satu penghilang stres yang ampuh setelah makan. Dan, baru akhir-akhir ini, gue coba buat video “let’s play” di channel YouTube gue. Videonya berisi gameplay dan reaksi gue terhadap game yang sedang dimainkan. Salah satu game yang pernah gue mainkan berjudul Unfair Mario. Bukannya ngilangin stres, gue malah makin stres. Yang bikin game seenaknya, jebakannya nggak bisa diperhitungkan dengan logika.

Ada lagi, gue mainin game horor. Judulnya TheHouse buatan Sinthai Studio. Emang sih, game-nya simpel. Tugas kita cuma klik-klik ke benda-benda tertentu. Terus kalo udah klik gitu, kadang suka muncul jumpscare yang bisa bikin jantung copot. Makanya, main game horor itu volume-nya harus dikencengin biar berasa. Tapi jangan terlalu kenceng juga, nanti bisa budek.

Satu hal yang pasti, kalo kalian juga mau bikin video “let’s play” adalah: dibilang ngikutin PewDiePie. Yah, mau gimana lagi. Risiko sih. Tapi lucu aja, masa yang boleh main game cuma satu orang doang kan? Jangan dibawa pusing, tujuan main game kan buat seneng-seneng. Reaksi orang juga beda-beda. Kalo ada yang nggak suka, YouTube kan menyediakan tombol dislike. Yoi. Sesederhana itu.

Gue sendiri pernah diprotes karena sering ngomong kasar untuk mengungkapkan kekesalan saat main game. Gue pikir, yah, gue sedang menunjukkan: “Ini loh reaksi spontan gue ketika jatuh atau kaget.” Ketika ada orang yang ikut-ikutan ngomong kasar karena nonton video gue, ya, itu bukan sepenuhnya salah gue. Gue sama sekali nggak nyuruh yang nonton buat ngikutin omongan gue. Kalo di video gue nyuruh orang-orang buat ngikutin omongan gue, ya, sepenuhnya gue baru salah.

“Tapi, lu kan nyontohin yang nggak bener, Vin?”

Sama seperti sinetron. Kalo kelakuan anak-anak zaman sekarang kayak gitu (taulah), ya, jangan salahin sinetron-nya. Siapa suruh sinetron ditonton. Kita kan punya hak dan kontrol untuk itu.

Ya, beberapa hari lalu ada orang nyasar yang ngomentarin video gue. Protes kenapa gue mengucapkan nama binatang. Menyuruh gue berpikir bahwa ada berjuta-juta orang yang online dan menonton video gue di YouTube, termasuk anak-anak yang masih polos, dan dia takut, nantinya mereka akan ikut-ikutan seperti gue. Katanya, ini bukan pelajaran yang bagus untuk anak-anak.

“Yah, memang.” kata gue dalam hati. Karena ini YouTube, bukan buku pelajaran.

Welcome to YouTube

FYI, channel YouTube gue itu bener-bener random. Apa aja ada. Video main rubik, main futsal, vlog, challenge, gaming, kompilasi Instagram, semua ada. Kalo ditanya channel YouTube gue isinya apa aja, jawaban gue, “Banyaaaaaak! Lu maunya apa?” Gue ini orangnya selalu suka mencoba hal-hal yang baru. Jadi, dimaklumin aja ya kalo video gue kadang random. Tergantung arah angin. Ehe.

Gue asumsikan, pembaca blog gue di sini udah tau akun YouTube gue apa. Jadi, sambil menunggu selama seminggu untuk setiap postingan baru, cari aja gue di YouTube. Siapa tau update video baru. Kalo kadang random dan nggak mendidik, ya maklumin… Karena ini YouTube, bukan buku pelajaran.

Dan tentunya, bukan sinetron.

Mau dapet email setiap ada postingan baru?


This Post Has 61 Comments

  1. Unknown

    Vin emang gk ada yg lain apa selain main game

  2. Unknown

    You simply pass the user’s input through the Game:ref on the way into the PC, and then compare those results with the data on the server side of things. If the two are drastically out of step, there’s reason to believe that there’s cheating software running on the cheap runescape gold.

Leave a Reply